Polisi Bongkar Sindikat Uang Palsu Rp 15 Triliun, Lima Orang Pengedar Ditangkap, Pencetak Diburu




SENANDIKA MEDIA - BANTEN - Peredaran uang palsu (upal) bernilai triliunan rupiah berhasil digagalkan oleh jajaran Satreskrim Polres Pandeglang, Banten.


 Tim Satreskrim Polres Pandeglang, menangkap lima orang yang diduga anggota sindikat pengedar uang palsu, di Wilayah Kabupaten Pandeglang.


Polisi masih memburu orang yang mencetak uang palsu tersebut.


Saat ini lima orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut peredarang uang palsu tersebut.


Mereka adalah L (48) warga Kota Serang dan A (61) warga Pandeglang, Provinsi Banten.


Serta SB (60) warga Subang, G (48) dan NA (48) warga Indramayu, Jawa Barat.


Selain itu polisi juga mengamankan dua orang saksi.


Polisi menyita barang bukti, berupa, 3.000 ribu lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu.


1.000 lembar uang palsu dollar Amerika dan euro.


Polisi juga menyita senjata jenis air soft gun serta dua kendaraan yang digunakan pelaku.


Modus yang dipakai, adalah dengan cara menjual uang palsu senilai Rp 300 juta, dengan uang asli senilai Rp 150 juta.


Awalnya Satreskrim Polres Pandeglang menangkap L (48) dan A (61) terkait sindikat peredaran uang palsu.


L warga Kota Serang dan A warga Pandeglang ditangkap polisi bersama ketiga rekannya SB (60) warga Subang, G (48) dan NA(48) warga Indramayu, Jawa Barat.


Dalam penangkapan terduga pelaku tersebut polisi berhasil menyita ratusan lembar uang rupiah hingga pecahan mata uang asing.


Uang palsu yang didapatkan dari kelima terduga pelaku tersebut jika dikonversi senilai Rp 15 triliun.


Kasatreskrim Polres Pandeglang, AKP Shilton menceritakan, uang palsu tersebut mulai diedarkan pada Minggu 9 April 2023.



Saat itu, G menawarkan uang palsu kepada L untuk dijual. 


Kemudian, pada Rabu 12 April 2023, L, GA, SB menuju rumah AR di Indramayu untuk melihat sampel uang tersebut.


"Sampel uang itu disimpan di dalam box dengan pecahan Rp 100 ribu dengan jumlah total sekira Rp 65 miliar," kata Shilton, Rabu (19/7/2023).


Selanjutnya dijelaskan Shilton, pada Sabtu 15 April 2023, AR menyerahkan uang palsu dengan nilai sekitar Rp 300 juta dengan penawaran harga Rp 250 juta kepada GA.


Kemudian pada Sabtu 29 April 2023, GA, SB, IM, dan AB mendatangi L di Pandeglang untuk membangun kesepakatan.


"Nah uang palsu sekitar Rp 300 juta kemudian dijual dengan harga Rp 150 jt kepada L dengan pembayaran transfer," jelasnya.


Lanjut Shilton, L kemudian menyerahkan uang palsu sekitar Rp 300 juta tersebut ke A untuk jaminan agar L mendapatkan uang Idr polimer dari teman AA.


"Namun pada Minggu 16 Juli 2023 L dan A berhasil kami amankan di rumah A yang terletak di Desa Sindanglaya, Kecamatan Pagelaran, Pandeglang," ungkapnya.


Menurut Shilton, setelah dilakukan pengembangan, polisi kemudia mengamankan SB, G dan NA di salah satu rumah yang terletak di Indramayu, Jawa Barat.


Dari tangan para pelaku lanjut Shilton, polisi turut mengamankan uang rupiah pecahan Rp100 ribu sebanyak Rp300 juta.


Dan 900 lembar uang pecahan 1.000.000 Dollar US, 100 lembar uang pecahan 1.000.000 euro.


Serta 2 pucuk senjata shotgun, 2 unit mobil dan 1 buah lampu sinar ultraviolet milik para tersangka.


"Jika dikonversi kedalam rupiah uang palsu tersebut mencapai Rp 15 triliun," jelasnya.


Shilton melanjutkan, uang palsu itu akan di uji coba di Bank Indonesia (BI) wilayah Banten, untuk mengetahui kualitas serta melengkapi bahan penyidikan.


"Sedangkan tersangkanya sudah mendekam dibalik jeruji besi Polres Pandeglang," pungkasnya.


Polisi masih memburu orang yang mencetak uang palsu tersebut.


Aparat Sat Reskrim Polres Pandeglang mendalami kasus peredaran uang palsu Rp 15 triliun.


Kasat Reskrim Polres Pandeglang AKP Shilton membuka peluang ada tersangka baru dalam kasus tersebut.


"Pencetak uang palsu masih dalam kejaran dan ada juga tersangka lainnya. Intinya kasus ini masih kami kembangkan," kata Shilton kepada TribunBanten.com, Rabu (19/7/2023).


Diketahui, dari tangan para pelaku polisi turut mengamankan uang rupiah pecahan Rp100 ribu sebanyak Rp300 juta.


Dan 900 lembar uang pecahan 1.000.000 Dollar US, 100 lembar uang pecahan 1.000.000 euro.


Uang tersebut jika dirupiahkan mencapai Rp 15 triliun.


Serta 2 pucuk senjata shotgun, 2 unit mobil dan 1 buah lampu sinar ultraviolet milik para tersangka.


Shilton melanjutkan, uang palsu itu akan diuji coba di Bank Indonesia (BI) wilayah Banten, untuk mengetahui kualitas serta melengkapi bahan penyidikan.


Menurut Shilton, para tersangka akan dikenakan pasal 36 ayat 2 dan atau ayat 3, juncto pasal 26 ayat 2 dan ayat 3, Undang-undang (UU) RI nomor 7 tahun 2011, tentang mata yang, juncto pasal 55 KUHP.


"Ancaman pidana pasal 36 ayat 2, pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling tinggi Rp 10 miliar. Kemudian ancaman pidana pasal 36 ayat 3, pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling tinggi Rp 15 miliar," pungkasnya. 


Sumber:serambi